Sebuah Kasih yang Mengalami

Karena terkadang kita tak mengalaminya bersama yang kita harapkan.
Bahkan yang kita harapkan terkadang tak terjadi.

Senja semakin memerah tepat di garis horizontal, kala aku masih mengharapkan terang. Secercah terang yang tersisa dibalik lubang-lubang kayu oak mengharuskanku berusaha untuk tetap bahagia di tengah padang meradang. Terang yang pernah dirampas oleh kehilangan dan dikembalikan sebagai hadiah berupa debu. 

Mengapa kita tak bisa melawan terang dari cahaya? Mengapa bumi harus berputar pada porosnya sembari mengelilingi matahari? Mengapa ada gravitasi bila beberapa orang bermimpi suatu hari mereka bisa terbang? Dan mengapa hanya ada sebongkah hati untuk segala perasaan?

Sejujurnya, sulit aku melupakannya. Dia yang meninggalkan jarak lebih dari 365 hari tanpa pernah mengeluh. Dia yang membuatku lupa bagaimana caranya mengikuti surgawi yang tak mengubur kerang dibawah pasir, melainkan dibawah sebentuk kata yang tak pernah terbentuk. Dia yang menjadikanku tak ubahnya dari seekor cacing yang menggeliat untuk mencari sang tanah, sang kehidupan. Dia yang menyenangkanku dengan memecahkan gaung yang gemanya dapat menghancurkan tebing-tebing di antara sunyi, jauh dalam deritaku.

Tak pernah bisa kubayangkan pesakitan yang merasuk kalbu. Seberapa banyaknya lapisan yang harus ditembusnya. Merobek kulit demi kulit, mengelupas tulang demi tulang, menyayat pembuluh demi pembuluh darah, sampai mengukir nisan dalam ruang kosong tak berpenghidupan. Selama ini aku menyimpan waktu atas kering membusuk detaknya detik, menyimpan remuk dalam gemetar yang membikin takut mata kaki, dan menyimpan tangguhnya pengharapan yang lapuk.

Oh Tuhan, mengapa ada ciptaan yang begitu mahabulan di kedua bola mata ini? Mahabulan yang tak menjadi bulan di mata lain, hanya padaku. Haruskah aku mengubah tanduk menjadi tombak mematikan yang membunuh malam-malamku sendiri? Atau demikiankah selayaknya aku menjadi putri duyung saja? Putri yang mengarungi luasnya lautan, hanyut dalam kejernihannya, hingga ragaku tak dapat ditemukan dalam gunung didasarnya yang sekiranya paling sanggup menelan samudera. Padahal, aku giat menyembah laut kedamaian yang setiap malamnya mengumpulkan bulan.

Lantas, aku semestinya menjadi apa agar mahabulan itu tak berpendar bagai bintang yang sekarang merupakan milik galaksi lain? Sudah cukup rasanya aku merasa nyeri di antara celah dari kumpulan sudut tumpul awan dimana mereka melambaikan kesombongan. Tak mustahil 'kan, aku akan mendapat kehormatan jika setidaknya menjadi rumput hijau yang kapan saja bisa kau baringkan tubuhmu sembari mengumpulkan air senimu saat itu juga.

Sungguh aku tak bisa jauh darinya. Aku rela menjadi apapun, paling tidak aku bisa menatapnya. Aku tak sanggup berangkat menuju dimensi lain yang karena itu seharusnya aku memperjuangkan hidup dan menjalaninya tanpa beban dan tanpanya. Entahlah, tak peduli akan menjadi apa aku nantinya. Jadi coklat dalam bulu burung dara atau birunya sayap kupu-kupu blue mormon.

Pudarnya sudah warna merah yang telah berurat akar dalam sanubariku. Sayup atas malam yang sedih menjadi nyaring karena aku telah menaruh rindu pada ketidaksudahan. Tak terhitung sudah aku mengamati derap langkah kaki yang selalu melintas dari belakang semak belukar, menebak itu dirimu. Mungkin ini salahku yang terlalu berharap pada sesuatu di luar dari sederhana, dirimu. Bodohnya aku, setiap hari memetik kecantikan mahkota-mahkota bunga bougainvillea untuk mengisi kesengsaraan, teriris oleh hari-hari yang setia merawat tajamnya duka demi aku.

Katakanlah sesuatu agar aku tak menantikan sebuah kehadiran yang hanya menjadi sekadar angan. Angan yang menembus birunya langit di awan. Angan yang melewati melalui pepohonan-pepohonan rotan. Angan yang membelah garis khatulistiwa yang nyatanya tak ada. Angan, yang menyadarkan bahwa aku telah terperosok dalam sumur maut sebab sempat merasa memilikimu.

Ya ampun, Tuhan, bantu aku. Hamba hanya insan yang tersesat, kehilangan dermaga untuk mencari tempat bernaungnya rindu, tidak tahu apa yang kuinginkan. Di satu sisi, aku hanya minta pembebasan agar pantas menyambut tumpuan supaya tak menyimpan lagi hasrat mendamba untuknya walau dia tak pernah mengikatku dengan kuat. Sebab aku sadar, akulah sendiri yang menyiksa hati kecil ini dengan membuang-buang waktu, membiarkan terjerat oleh mata rantai paling emas. Di sisi lainnya, aku tetap ingin duduk di atas kursi, menatap dari kejauhan sambil membendung berahi yang tak pernah kulambungkan melalui bibir. Sesampainya detik ini, kau tak benar-benar tahu perihal hatiku, baik saat itu maupun saat ini.

Tak heran nestapa mencibirku. Atas debaran jantung yang gejolaknya saja dapat meleburkan arti sesungguhnya dirimu namun terus berjalan dalam kepura-puraan. Tak melangkah, tak mengakhiri sejak lebih dari 365 hari yang lalu. Masih melamun dan belum berhenti. Walau kau tak pernah disitu, bahkan segera enyah dari pandangan yang selama ini memandang jauh dari ketidaktahuanmu. Menyerupai desiran yang hanya bisa terjaga dalam seluruh merananya kenyataan.

Dok. Pribadi

Untukmu. 

Sayangku. Bajinganku.
Yang telah kuhakimi. Yang telah kuratapi.
Dengan seluruh peluh. Dengan segenap nista. 

Comments