Pulanglah Padanya

Pagi tak pernah hangat
Malam semakin dingin
Memimpikan mati
Sebab hidup terlalu sulit

Embun tak benar-benar basah
Daun semakin menguning
Berlapang dada gugur
Sebab hujan tak kunjung datang

Kemanakah
Kepingan bonanza
Yang dikatakan setiap orang memilikinya

Lekang bonanzaku
Mencari bonanza lainnya
Uh

... Aku merindunya ...

Tersembunyi di relungku
Tentang kenangan
Pedih
Dan harapan

Pandangan kabur
Air mata tergenang
Lupa pada keharusan
Untuk menjadi tegar

Aku menengok ke belakang
Mungkinkah aku yang salah
Sampai hanya aku satu-satunya
Jauh dari kesungguhannya

Sia-sia
Tetap saja tak ada kasih padanya
Untukku

Haha
Pandirnya aku
Memimpi yang tak memimpikanku
Mengenang yang tak mengenangku
Dan tetap mengasihi yang tak mengasihiku

Wahai lelaki
Pemilik singgasana
Samudra kehidupanku

Kutitipkan kebahagiaan
Pada bonanzamu
Dan kamu
Bonanzaku

Merajut kasih yang tak bertepi lagi
Membangun derai tawa di wajah
Dan segalanya bukan padaku
Karena lenyap sudah jalan untuk pulang

Lapi pula tak ada alasan bagimu
Untuk pulang padaku
Sebab telah kau dapatkan
Muara hati baru
Sebagai tempat tinggalmu

Disini
Dengan duka
Kugerai kasih yang takkan lenyap
Bak prasasti nan terukir namamu

Ilustrasi (sumber: gizaktanz.blogspot.com)