Tentang Sebuah Kau Padaku

January 17, 2015
Petang Menyapa

Cahaya mentari bersinar terang menembus awan

Spion-spion sepeda motor berkilauan dibuatnya
Atap-atap rumah dari seng yang menua tak menghiraukan
Tetap saja menjaga keramahan cokelatnya
Sesekali kulihat daun-daun pisang melambai
Persis seperti helai-helai rambutnya yang menari

Bunga-bunga putih nan kecil berayun lembut
Mengikuti ranting-ranting muda yang renta
Sementara dibawahnya, seekor kucing hitam tampak asyik menjilati tubuhnya
Enggan terusik dengan kumpulan orang tua yang tengah tertawa
Persis seperti diamnya yang mengundang tanya

Katakanlah, apa yang kau pandang?
Adakah langit memetakan sedihmu tanpa pilihan di depan mata?
Bilamana kau rasa sajak cinta hidup ini semakin hilang
Izinkan aku menjadi buta
Demi mendengar lautan petaka yang kau simpan meradang


Ceritalah tentang pengharapan di masa depan
Untuk membasuh luka yang membatin
Ceritalah tentang baik buruk kenangan
Untuk merabai ingatan-ingatan berkesan
Tapi kumohon jangan bercerita tentang kematian
Yang sejatinya milik Tuhan



Lihatlah
Aku memang seorang bajingan
Namun aku hanya seorang aku
Dan tiada kebahagiaan kekal yang ingin kukandung
Selain syukur menjadi buah hatimu



May 7, 2015
Fajar Menyapa

Pagi masih membuta
Lampu jalan di seberang rumah telah mati
Ia terbangun mendengar duka
Seperti petir yang tengah menari di ulu hati

Mungkin ini yang dikatakan orang
Aroma kemenangan menyambut tenang
Tanda berakhirnya perjuangan
Setelah menerjang ribuan pesakitan

Entah seberapa banyak lautan air mata
Takkan cukup membasuh nelangsa yang menganga
Ia hanya ingin duduk di tepi telaga bersamanya
Diam menyisakan sesak mengudara

Jam tangan berhenti berdetik
Pemberian beliau di lima tahun yang lalu
Menyisakan tanya dalam rahim kenangan
Untuk ia bungkus dengan keikhlasan

Adakah yang lebih membunuh
Ketimbang menyadari
Tiada yang akan melukiskan cemas
Menasihati
Merindu

God, she needs to breath

She really does

'Cause she holds all the things she wanted to say
All the things she wanted to ask
She loved him
Did he?
She was proud of him
Was he?

Papa...

Kini, sumber kasih kami telah berpulang
Sang intelektual yang mengalpa
Who knows everything and the right thing
Mengembara menuju pangkuan Bapa
Lepas dari pengadaan ragawi
Refleksi yang kini mendua dengan abadi

Mendua?
Ya
Sebab pernah bersatu dengan jiwanya
Dan selamanya

Kendati demikian, ia tetap membisu
Tentang matahari yang kehilangan sinarnya
Tentang pelangi yang takkan lagi kembali
Atau tentang pedih yang sebenar-benarnya

Langit menghadap dan mempertanyakan
Kedalaman hatinya yang bernilai ambigu
Ia bisa
Hanya saja ia meminta sekeping waktu
Untuk menukarnya dengan ketulusan yang tunggal

Oh Tuhan
Oh semesta raya
Oh segala padang rumput dan sahara
Lapangkanlah para dada berpedang disana
Biar ia dan rumah kecilnya berjalan sepanjang sedih
Dengan bahagia yang mengekor 
Ajarkan mereka mengeja pelepasan
Pelepasan atas nama cinta yang keemasan

Selamat jalan, Papa
Beristirahatlah dalam damai
Cinta ini akan terus tumbuh
Seperti yang kau berikan pada kami

Tu me manques

Lord
I wish he'd say

Moi aussi, sweetheart

Comments