Menunggu

Dalam embun menanti hangatnya mentari atas kerinduan tak tertepati, hanya mampu berdiri, diam, menunggu angin yang menyejukkan raga ini, raga yang tak tersentuh. Tak terdengar, tak terlihat, tak terasakan, bukan tak mampu. Laksana bayangan hitam yang disinari dengan cahaya, dengan suaramu yang benar-benar menggetarkan relung sang perempuan yang menanti ini.

Ingin pergi, ingin enyah, tapi dunia ini memiliki batas untukku, memberi batas tak terbatas. Hingga kini aku tak bisa berkata apa-apa, aku hanya bisa menatap kekosongan yang tak berbicara padaku. Pada rumput aku bersungut, pada langit aku berteriak, pada ombak aku berpasrah, dan padamu aku membenci. Bukan aku membenci dirimu, tapi aku membenci lara ini! Lara yang menganga dimakan setiap detik dan setiap hembusan. Jangan biarkan hati ini lenyap ditelan ketidakjelasan. Bagai karang yang diam, begitu aku yang hanya diterpa ombak dan menunggu waktu menghancurkan aku tanpa sisa. Tapi betapa beruntungnya aku karena aku tak menangis, tak ditangisi, dan tak menangisi. Keskeptisan ini telah membekukan hati ini hingga nyerinya tidak terlalu perih, hanya ada borok dari bekas luka yang tak terobati.

Sebegitu bisukah dirimu? Atau sebegitu sampahkah diriku? Memang aku bangsat dan aku mengakuinya. Aku memang tak sekemilau berlian, aku memang tak berharga, aku tak memiliki arti dimatamu. Aku bukan angin tapi aku asap yang mengganggu kehidupanmu. Tapi harus kau ketahui sebagaimana diriku, sebagaimana hatiku, perasaan ini benar adanya dan inilah aku.

Untuknya, yang tak pernah menginginkan adanya aku.

Lourdes//1.27.11//Jakarta

Comments