Kehancuran

Sadarkah kau atas perbuatanmu? Kau tidak hanya mengoyakkan, menginjak-injak, ataupun merobek hati ini. Tapi kau telah meremukkannya, retak seperti beling, dan menunggu salah satu retakan jatuh dan. Praaangg! Hancur seketika.

Bukan dengan pukulan, tapi kebisuan. Kebisuan yang membuatku bergeming dan hilang kerasionalan. Menunggu dan diam sepertimu. Mengharapkan sebuah kata nan menyenangkan keluar dari mulutmu. Tapi? Kau membiarkan waktu menggantungku hingga akhirnya kau menghantamku dengan kata-kata yang tak ingin kudengar.

Nila setitik rusak susu sebelanga. Hanya dengan satu retakan semua lenyap menjadi serpihan tak berarti. Bak memegang bara api dalam kepalan tangan yang terkaku kuat. Terus berjalan dalam terangnya kegelapan sambil membawa perasaan yang sudah meradang. Menjadikan semua ini seperti ketololan yang terjadi secara kebetulan. Aku tak bisa melakukan pengingkaran bahwa hati ini memang berperasaan padamu. Namun ketakutanku yang menamparku, menyadarkan dalam kenyataan.

Setiap yang berarti semuanya akan sirna ditelan ketiadaan. Lenyap menjadi bayang dalam mimpi. Tak terasakan apapun, hanya hembusan yang memanja dan menggoda. Membawa pada tanda tanya tak berujung. Aku tetap berhak untuk tersenyum. Namun aku tak bisa merasakannya, merasakan kebahagiaan yang membuat aku lupa bagaimana caranya menangis.

Jika ini memang yang harus kujalani, biarkanlah aku merasakannya tanpa tekanan. Tanpa bayanganmu yang mampu menghancurkan dinding pertahananku kapan saja.

Comments