Maaf, Kak
Tulang bernadi dan berdegup
Mungkin ombak saja kalah memuncak
Sebab empedu terlalu kisruh
Menjawab seluruh petaka
Terlahir dari rahim bibirmu
Tanah begitu akan berdosa
Menyaksikan caci makiku
Langit kelak begitu nista
Mendengarkan kesungguhanku
Ah gema
Mengapa perlu sunyi
Bila aku tak ingin mengingat
Sesal berlimpah
Akukah?
Diakah?
Persetan
Hanya dunia yang simpan cerita
Aroma api dan bumbu kelaknatan
Segenap kata paling mawar
Menanti diujung lidah
Siap membunuh
Tanpa dengan laras
Atau menjemput putih yang pernah
Anjing memang aku
Tiada lebih
Aku saja seorang
Jangan bertanya
Aku hanya benci dipapah waktu yang dulu
Menyentuh dengki
Yang nantinya kulalukan
Kak
Aku ini bocah sableng
Telagaku memang sudah terlalu binasa
Meluputkan rengkuhanmu dari hari-hariku
Tapi jujur
Aku takut
Takut pada entah yang entah
Beginilah tumbuhku
Maaf bagi malam yang tadi
Comments
Post a Comment