[Book Review] Pers Orde Baru: Kebebasan yang Dihantui Pembredelan

Pers Orde Baru oleh Rizal Mallarangeng (Dok. Pribadi)
Pers Orde Baru diangkat dari sebuah skripsi dan pernah dipublikasikan sebagai monografi di Jurnal Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM (1992). Cetakan tahun 2010 ini membahas seputar pergerakan Kompas dan Suara Karya dalam menyajikan informasi di tengah keterbatasan untuk berpendapat.


Pria kelahiran Parepare yang merupakan saudara dari Andi Mallarangeng ini telah menerbitkan beberapa buku sebelumnya. Di antaranya Mendobrak Sentralisme Ekonomi: Indonesia 1986-1992 (2002) dan Dari Langit: Kumpulan Esai tentang Manusia, Masyarakat, dan Kekuasaan (2008).

Buku ini dibuka dengan pengantar dari Ashadi Siregar kurang lebih 10 halaman kemudian dilanjutkan prakata dan pendahuluan oleh Rizal yang membahas seputar birokratisasi, ideologisasi, dan etika pers. Selanjutnya, dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Tajuk Rencana dan Berita Utama: Di Antara Views dan News, Kompas dan Suara Karya: Di Antara Modal dan Kuasa, serta Kompromisme Sosiologis dan Ketidakberdayaan Politik. 

Sebelum menilai pengaruh dalam perbedaan penulisan antara tajuk rencana dengan berita utama yang dijadikan sebagai dasar perbandingan di bagian ketiga, Rizal menjelaskan masing-masing definisi dan fungsi keduanya terlebih dahulu yang dihimpun dari pendapat para pakar dan pengamat. Pemahaman ini juga meliputi polemik mengenai perlu atau tidak kehadiran tajuk rencana dalam sejarah kritik pers Indonesia. Bagian ini banyak disertai beberapa potong tulisan dari kedua harian yang dijadikan sebagai objek penelitian.

Bagian selanjutnya lebih meninjau pergerakan masing-masing harian sejak awal berdirinya. Dengan menyertakan data-data teknis dalam kurun waktu tertentu, tinjauan ini berkisar perkembangan oplah, perkembangan wartawan dan karyawan, hingga kredibilitas informasi yang disajikan menurut persepsi pembaca.

Terakhir, penulisan lebih mendalami orientasi dan sumber informasi kedua harian dengan memaparkan data kuantitatif yang disertai deskripsi kualitatif. Kemudian, ditutup dengan membahas masalah etis dan etika keselarasan, mempertanyakan penerapan ideologi Pancasila dalam kehidupan pers Indonesia, serta pencarian metodologi yang kokoh untuk studi kasus tersebut.

Disini, penulis menggambarkan keadaan yang dihadapi pers senantiasa bergerak dibawah kendali pemerintah. Hal ini menyebabkan pers memilih netral dalam mengkritik sistem pemerintahan atau kebijakan-kebijakan yang dibuat. Ada beberapa kalimat yang cukup mencengangkan mengingat seringkali saya dapati hanya dari mulut ke mulut. 

'Rezim Orde Baru melakukan banyak cara untuk memperoleh mayoritas suara ini [di parlemen], antara lain melakukan penetrasi ke dalam birokrasi dan mengharuskan pegawai negeri untuk memilih Golkar.'
(hlm 67)

Pernyataan-pernyataan semacam ini bernilai ambigu. Awalnya, saya anggap sebagai informasi saja. Namun, di sisi lain, tampak bahwa penulis menunjukkan kecenderungannya terhadap Kompas. Perihal ini dapat dilihat dengan jelas dari bagaimana usahanya menjelaskan perbandingan data kuantitatif di bagian ketiga.


'Tabel terakhir, III.D.6, memperlihatkan, pers yang tumbuh berdasarkan kepentingan-kepentingan bisnis-industri paling sering mendukung pendapat atau ide-ide yang menyangkut persoalan ekonomi, sementara pers yang dipelihara oleh kepentingan-kepentingan politik yang bersifat praktis paling sering mendukung ide-ide yang berhubungan dengan persoalan politik.'
(hlm 109)

Untuk generasi kelahiran masa Reformasi atau di akhir Orde Baru, buku tipis ini dapat memberi kurang lebih gambaran mencekam akan kekuatan pemerintahan di segala aspek. Termasuk bagi mereka yang tertarik dengan dunia pers, buku ini masih dapat saya rekomendasikan.

Comments

  1. Wuihhh mantap MakDes bacaanya berat gini, baby belum kuat heheu... ditunggu review buku selanjutnya yak^^

    ReplyDelete
  2. Wuihhh mantap MakDes bacaanya berat gini, baby belum kuat heheu... ditunggu review buku selanjutnya yak^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebetulan pas diskon, jadi kubeli aja mak huehehe siap, Mak Sandra

      Delete

Post a Comment