VPELM (2)

Veronica at Identic Coffee (Dok. Pribadi)
Dear Paskah,


Halo, 16 April 2017.
Terima kasih telah membawa tanggal dan bulan yang sama dengan tahun yang berbeda.

Elia oh Suster Elia. Aku harus mulai cerita ini dari mana? Hem, baru-baru ini aku iseng mengetikkan namaku pada sebuah search engine yang Mahatahu, Gugel. Di halaman keduanya, aku terkejut mendapati sebuah laman yang meluangkan satu paragraf mempersoalkan gaya bahasaku.


Kira-kira empat tahun lalu aku berpartisipasi pada sebuah lomba cerpen dengan tema Long Distance Relationship. Naskah yang lolos diterbitkan secara indie dan tulisanku termasuk di dalamnya. Jujur, aku bersyukur dan hampir gila tatkala mengetahuinya. Tapi sesukacita apapun, aku tak pernah membaca buku itu. Sebab para penulisnya diharuskan merogoh kocek pribadi untuk membeli tulisan mereka sendiri. Agak kurang masuk akal bagiku.

Sampai beberapa hari yang lalu, aku menemukan sebuah tulisan Desember 2013. Tampaknya ia merupakan salah satu penulis dari kumcer itu. Ia membelinya. Ia baca dan menuliskan pandangannya. Dan, namaku berbaris diantaranya.

Ada cerita yang cukup mencuri perhatian, yaitu "Ketika Aku Mencoba Memeluk Jarak" oleh Lourdes Florentine Mariso. Saya bilang, tulisannya sangat nyastra. Agak kaget saya menemui tulisan bergaya begini dalam buku seperti LDR. Bukan saya mengecilkan arti buku LDR, dan juga gaya tulisan penulis yang lain. Tapi membaca cerpen ini sepertinya malah jadi membuatnya njomplang. Tak seimbang. Di antara tulisan-tulisan bergenre pop *bahkan ada yang terlalu curhat* tiba-tiba nyempil tulisan yang bergaya tulis sastra begini, dengan simbol-simbol, dengan diksi-diksi dewa.

Tulisan tersebut cukup menggelitikku. Simbol dan diksi dewa apa yang ia temukan? Bukan bermaksud menyangkal, tapi pernyataan semacam ini sangat ambigu bagiku. Kritik ini memang tampak ditujukan kepada editor. Namun, bila ia nilai bahwa kehadiran tulisanku membuat njomplang, maka bukankah itu berarti ia pilih untuk mengeliminasi tulisanku? Lantas, jika ia mencari keseragaman, mengapa ia membeli kumcer yang ditulis oleh banyak orang? Lupakanlah, anggap saja aku tengah bertengkar dengan diri sendiri. Toh, semua orang punya hak untuk berpendapat, bukan? Ugh.

Bagaimana kesehatanmu akhir-akhir ini? Kuharap kau senantiasa baik-baik saja tanpa perlu menyimpan sebuah pesakitan. Semoga hari-harimu berjalan lancar juga dengan perawatan yang kau lakukan, tanpa perlu terlalu khawatirkan satu perkara apapun. Apakah aku boleh mengatakan ini? Bawalah terus obat dalam tasmu. Tiada niat untuk memikirkan hal terburuk, hanya ingin kau berjaga-jaga saja. Barangkali kau kira aku berlebihan. Tapi, aku selalu membawa hansaplast dan polysilane dalam tasku mengingat setan selalu datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

Ceritalah, manakala sebuah noktah hitam mulai berdiri dan mencuri perhatian dalam dirimu. Jangan biarkan ia hidup dan tumbuh tanpa seorangpun tahu, termasuk Tuhan. Walaupun, ya, aku tahu, seharusnya aku lebih giat mengingatkan diri sarat dosa ini. Mengingat kau sudah jauh lebih sering berbicara pada Tuhan tanpa perlu kuingatkan dengan sebaris paragraf ini lagi. Terlebih ada Bang ehem Rianmu yang tak kunjung lupa mengingatkan. Huh, kapan aku bisa menjadi seperti Bang Rian, ya? Loh!

Rasanya beberapa hari yang lalu, aku lihat di sebuah sosmedmu, Bang Rian tengah memotong kue dan kau berdiri disampingnya dengan wajah yang (kalau kata Cailak) tidak bisa santai. Lengkap dengan gantungan 'Happy Birthday 23' dan doamu 'Selamat ulang tahun. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu. Tuhan Yesus memberkati'. Siapa yang sebenarnya ulang tahun? Si 23? Atau Bang Rianmu? Jikalau Bang Rianmu yang tengah merayakan hari istimewa tersebut, sampaikanlah salamku untuknya. Semoga dan semoga dari seluruh semoga yang semoga, ia dimampukan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Lepas dari semua itu, mohon maaf aku tak bisa persembahkan kado dan ikut adu lempar telur kepadamu, Sayang. Selamat ulang tahun, Laora. Semoga bertambahnya umur ini menjadikanmu lebih kuat dalam menghadapi segala keresahan hati. Tetaplah tersenyum dan menggila dengan apa adanya dirimu. Sebab dua hal itulah daya tarikmu, Manurung. Panjang usia, sehat selalu. Senantiasa diberkati serta dilingkupi kebahagiaan baik dalam keluarga, asmara, bebek, karier, maupun drama kehidupan lainnya. Jangan lupa pantang makan gorengan, minuman beralkohol dan bersoda, serta hindari merokok. Bahkan asapnya. Ya, ya, ya. Kau tahu itu. Aku hanya ingin mengingatkan kembali.

Catatan:
Jangan minta aku ganti foto itu, Sayang. Aku sangat menyukainya: senyum itu. Sungguh.

Comments