PTC

Dear Priscilla,

Walaupun kita hanya sempat melukis masa putih abu-abu bersama, aku masih simpan kenangan tentangmu. Bagaimana denganmu? Apa kau masih mengingatku? Jikalau kau ragu, sempatkanlah tiga menit saja dari seluruh perjalanan yang telah kita lalui untuk meraba selembar kenangan.

Tentu kuharap itu kenangan manis. Seperti halnya acara retreat OMK. Rintik rindu siap mengundang embun tatkala kau kaitkan lenganmu padaku di satu malam. Tepatnya setelah kita habiskan waktu di depan api unggun yang diwarnai hening bersama peserta lainnya. Dengan kedua tangan yang kumasukkan ke dalam kantong jaket hitam kesukaan ayahku, kita berdua berjalan tenang di atas rumput hijau. Tak pernah kunyatakan ini pada siapapun, tapi aku selalu sembunyikan gemuruh atas potongan sederhana semacam itu.

Ingatan berlanjut bagaimana seorang anak laki-laki keheranan dari belakang kita, mempertanyakan siapa diriku. Mungkinkah potongan rambut bondolku nyaris menyerupai laki-laki? Apa kita berjalan sebegitu dekatnya di antara lalu lalang? Atau karena kau kaitkan lenganmu padaku lantas kita dianggap sepasang kekasih? Entahlah, kupikir kedekatan tak semestinya didefinisikan sesempit itu. Ada kalanya, kita hanyalah kita tanpa perlu menempatkan tanya dalam ruang yang kita cipta.

Apa kau setuju? Iyakanlah, Theresia. Meskipun kutahu, itu tak lebih dari sebuah bualan belaka.

Hem, kau masih ingat dengan kisah cinta kita? Sebuah cerita yang menempatkan kita sebagai butchie dan femme. Sungguh tak bisa kulupakan ciuman tanpa menciummu. Sayang sekali, kecintaan kita harus bertemu dengan perpisahan karena Paskah. Iya, sebutlah gadis Batak pertama yang begitu lihai dalam berdiplomasi dan tentunya menarik hatimu. Tapi, bagaimana bisa aku memaksakan hati? Dan, apalah artinya dicintai tiada ketulusan? Pun aku sendiri masih skeptis akan pengadaan cinta. Satu hal yang kuyakini bahwa kisah ini sekadar dibangun demi memenuhi tugas Pak Paulus Tukan. (Apa kabar, Pak Paul? Apakah bapak masih gemar membaca pikiran orang?)

Luar drama itu, kita tetap menimbang kecintaan serupa, yakni merangkai kata. Pun menggambar. Tiga tahun ini aku sudah sangat kurang menggambar, aku terlampau pesimis terhadap kemampuanku sekarang. Kendati demikian, aku masih menulis sesekali. Bahkan dengan diam-diam. Sebab dengan cara itulah, aku berusaha menyembuhkan diri. Apa kau masih giat melakukan keduanya? Atau tengah menenun kecintaan lain?

Dari tadi aku terus bicara seakan jelas memiliki satu bilik dalam relungmu. Sebab memang demikianlah pengharapanku. Namun, ingatan yang jadikan aku rindu sebegini pecahnya dalam menulis terhadapmu juga menyadarkanku bahwa mula hingga kini, Sara Panny Monica adalah kesayanganmu yang jauh lebih unggul ketimbang aku atas segala hal. Sejatinya, aku ini apa bagimu bila dibanding dengannya? Iya, katakanlah gadis Batak kedua yang begitu cerdas dalam berargumen dan tentunya memikat hatimu. Terlepas tugas Bahasa Indonesia tentunya. Sungguh aku bukanlah apa-apa.

Ah, ulun lali. Kita hanyalah kita tanpa perlu menempatkan tanya dalam ruang yang kita cipta, bukan?

pintu berderit terbuka
cahaya remang berhimpit
merayap sarat karsa
sementara kau pandang langit-langit
gema suaramu tumbuh dalam dada
lahirkan kata yang saling pagut
hingga lupa kapan terakhir kali kau tulis prosa
adakah di antaranya untukku pun tak kuingat


diamlah gulita
riak luka sudah cukup lekat
aku hanya ingin menangis tanpa kata
izinkan aku sesaat
kali ini saja untuk lebih lama
tidur dalam sajak hangat

Jujur, aku tak tahu apa kesukaanmu. Rencana, aku ingin berikan Ashmora Paria karangan Mbak Lina tapi sulit kudapati. Kau belum lupa, 'kan? Novel sastra yang sebelumnya diterbitkan dengan judul Garis Tepi Seorang Lesbian. Seingatku, dulu kau sempat katakan akan ketertarikanmu terhadap cerita fiksi tersebut. Apa perasaanmu masih sama? Bila satu hari ada kujumpai, hendakkah kau menerimanya?

Oleh sebab itu, setidaknya biarlah aku tuangkan doa untuk ulang tahunmu, Claudia. Panjang umur dan sehat selalu. Hindari asap rokok, jangan sampai paru-parumu mengeluh kemudian merengek demi opname. Oh, bagaimana dengan si hyperhidrosis? Terhadapku, ia masih sangat mengganggu. Pun terhadap seorang kawan baru yang menjadikanku ingin bersandar padanya. Jika perihalmu sama, kuharap Tuhan sudi menguranginya dari padamu. Dan, semoga Tuhan membuatmu sibuk hingga tak luangkan waktu untukmu pikirkan soal potong rambut dengan model keriting gantung lagi. Olala, you haven't forget that name, right? Buzem?

Aku kira kau tak perlu bertambah manis lagi. Itu takkan adil bagiku karena hanya membikin lenyap kesempatan 'tuk memiliki seorang kekasih. Jadilah kuat sebagaimana diri yang kau inginkan. Setelah tahun demi tahun kau rajut kesabaran mendampingi seseorang penuh belati di sebuah masa, tiada syukur lebih pesona selain melihatmu kini temukan sesosok pria yang menghargai keberadaan hatimu.

Ya, kukira sebaiknya kucukupkan sampai disini sebelum aku pinta kopi Torajamu. Semoga kau senantiasa dilingkupi kebahagiaan. Tuhan memberkati, Sayang.

Comments