Keinginan

Maaf atas tinta yang kugoreskan ini. Maaf atas kelancangan yang kuperbuat. Maaf atas tulisanku yang untukmu. Seribu maaf kupersembahkan untukmu. Aku tak pernah bermaksud untuk mencintaimu. Aku hanya melihatmu dan waktu mengubah segalanya menjadi rasa ingin tahu, ingin mengenalmu secara lebih dalam.

Lebih dalam, lebih dalam, dan lebih dalam. Jauh hingga perasaan itu muncul di relung ini secara tiba-tiba. Tak pernah kusadari, tapi tak mampu kuingkari. Perasaan ini membuatku kecanduan, ingin lebih dekat tanpa batas, ketakutan yang dilumpuhkan oleh penasaran. Tapi aku adalah aku. Sebuah rasa yang tak bisa dibunuh oleh siapapun jua. Keraguan. Tak pernah mati, dan akan selalu ada hingga aku mati.

Sesulit apakah perasaan itu? Tak begitu sulit jika kau tak sadar akan dirimu. Namun, cukup sulit jika kau mengerti apa itu cinta, siapa dirinya, dan siapa dirimu. Harus kuakui, bahwa aku masih terlalu bodoh membicarakannya. Tapi tidak terlalu tolol untuk membiarkan aku jatuh pada kenikmatan harapan kosong. Harapan yang meminta. Dan kosong yang memberi. Satu kesatuan yang menggambarkan diriku.

Bukan salahnya jika ia tak pernah menginginkan kehadiranku. Salahku yang menciptakan, merasakan, mendungui, dan menjebak perasaan ini. Perasaan yang tak nyata. Perasaan yang membuatku menjadi bahan tertawaan. Perasaan yang memposisikan aku bak daun kering yang jatuh dan terinjak. Perasaan yang menghancurkan dan mengoyakkan hati ini. Tapi perasaan ini tetap membuat aku terus ingin hidup dalam kata "Ingin", "Ingin", dan "Ingin".

Lourdes//5.11.11//Jakarta

Comments