Lembaran Tiada Nama (7)

Dok. Pribadi

erreur

seorang relasi yang mengenal masa lalunya hampir saja menumpahkan banyak hal. tentu mengenai nama gadis yang pernah bersemayam dalam hatinya. aku mengantuk dan terlalu lelah, tapi garis start masih jauh dari pandanganku, nyaris tak terlihat. ingin aku berbalik ke perempatan dan mencari jalan lain. toh rasanya juga aku takkan mendapat apa-apa di jalan ini selain keruntuhan hati.

malam ini, aku pulang sendiri. oh, hati. jangan tanya ia kemana atau dengan siapa atau melakukan apa. aku tahu tapi tiada guna untuk bercerita. he made up something he probably thought it makes sense to keep a distance with me. lantas aku harus berhenti bermimpi ketimbang menyakitimu kembali wahai hati selepas enam tahun berlalu.

kami bukan untuk satu sama lain.

***

douleur

melihat kekosongan yang diluar kebiasaan merupakan hal yang begitu hitam untuk dimaknai. pekat dan legam yang dibalut oleh hening dan hampa. seakan dunia terbelah tanpa seorangpun tahu kemana belahan tersebut pergi menghilang.

seandainya kutemukan belahan itu, apakah kau sudi menerima dan menyimpannya untuk ditulis dalam sejarah yang barangkali kelak akan dibaca oleh tak seorangpun?

***

il y aura des jours meilleurs

kami memang dilahirkan untuk tidak bersama. aku akan berjalan tanpanya. karena ia seorang teman yang hanya mungkin tahu namaku. untuk saja aku telah mulai terbiasa kembali untuk meredupkan kelopak hatiku. terima kasih, Tuhan. terima kasih telah Engkau jaga hatiku.

***

aku teringat akan bau hujan yang terbaring sepanjang jalan
bagaimana diamnya mampu menusuk tulang dari segala arah
remukkan yang lemah dan gundah
sampai kita barangkali lupa siapa yang tengah berdiri

tiada sakit kurasa sebab telah kutolak sakit dari jauh hari
hanya saja luangkan menulis akhir pekan ini 
tentang sesuatu yang dulu ingin kualami
tentang sesuatu yang telah kualami
tentang sesuatu yang mungkin tak lagi kualami

sebab aku enggan mengalaminya sekali lagi
aku enggan jatuh pada lubang yang sama
sejak hari ini
terhadapnya

***

July 13

dia mengalpa di antara keramaian. maka, kuberanikan diri untuk mengirim sebaris tanya yang dibacanya dalam diam. mungkinkah ia menerka-nerka apalah arti kepedulian tersebut sesungguhnya? sementara aku menunggu sampai menjadi gusar setelah menyaksikan tanda biru itu berdiri tanpa waktu di malam yang ambigu. dengan pelan aku muntahkan satu kata dancuk dari mulutku dan bersungut-sungut, aku ini apa di matanya? tak ingin lagi rasanya aku bertanya demikian. entah kabarnya ataupun tentang siapa aku baginya.

begitulah aku yang begitu hilang dalam dimensi sendiri beberapa menit lalu. aku yang kini setengah mati menertawai diri lepas menyaksikan drama monolog bodoh. sebuah menit yang mengandung kekonyolan tiada tara.

Comments